Pemilu 2009 Pemilu Terburuk Sepanjang Sejarah Indonesia

April 21, 2009

PELAJARAN BERHARGA PEMILU 2009

“Selama matahari terbit dari timur ke barat, harapan itu masih tetap ada”

Mungkin itulah sepenggal kalimat yang dapat menghibur relung hati sanubari kita saat ini, ditengah kisruhnya hasil PEMILU Legislatif Indonesia tahun 2009 ini karena pelaksanaannya yang kurang dipersiapkan secara matang, mulai dari persiapan, verifikasi partai peserta pemilu, pemilihan anggota KPU, diubahnya system nomor urut yang dianut oleh partati-partai peserta pemilu menjadi berdasarkan suara terbanyak oleh Mahkamah Konstitusi sedikit banyaknya sangat mempengaruhi kinerja pengurus & fungsionaris partai dan penetapan Daftar Pemilih Tetap yang semrawut karena banyak warga yang harus kehilangan hak pilihnya karena tidak tercatat dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) bukan hanya membuat warga berang tetapi juga para petinggi partai yang merasa dicurangi dalam kompetisi pesta demokrasi kali ini karena perolehan suara partainya berkurang dan jauh dari target yang diharapkan.

Dalam hal ini sebenarnya ada banyak pelajaran berharga yang dapat kita ambil hikmahnya untuk dikemudian hari. Dari segala rentetan peristiwa tersebut diatas kita bisa mengambil keputusan bahwa bukan hanya pihak pemerintah yang bertanggung jawab atas kekisruhan politik di negeri ini tapi semua pihak ikut ambil bagian didalamnya.

Berikut beberapa contah hal yang bisa kita diskusikan mengenai pemilu yang dianggap sebagai pemilu terburuk sepanjang sejarah..

  1. PENDIDIKAN POLITIK RENDAH

Banyak partai tidak selektif dalam memilih kadernya untuk duduk sebagai anggota dewan dan hanya memikirkan perolehan suara yang didapat pada pemilu ini. Sehingga jangan heran apabila banyak caleg yang bingung apa tugas dan tanggung jawab mereka yang sebenarnya sebagai wakil rakyat apabila terpilih nanti sebagai anggota dewan karena tidak mengalami proses pengkaderan dan pembekalan sebagai anggota dewan, dengan kata lain POLITISI KARBITAN, itu bisa terlihat dengan banyaknya artis dan selebritis yang tiba-tiba banting setir profesi menjadi politi tanpa mengikuti pendidikan politik yang mapan sebelumnya. Bahkan ada juga yang sama sekali tidak pernah terjun dalam organisasi politik tiba-tiba namanya muncul dalam daftar caleg yang akan bertarung dalam pemilu legislatif. Orang-orang seperti inilah yang hanya akan membuat pemerintahan hanya berjalan ditempat, karena tidak pernah memberikan masukan-masukan dalam rapat, dan kecenderungannya hanya ikut-ikutan saja.

  1. PARTAI KURANG SELEKSTIF MEMILIH CALEG

Partai kurang bertanggung jawab dalam menyeleksi kadernya yang akan diusung dalam pemilu sebagai calon anggota legislatif, baik itu mental, kejiwaan sehat jasmani dan rohani. Kebanyakan dari mereka hanya bermodal nekat sehingga banyak dari caleg tersebut yang mengalami gangguan kejiwaan pasca pemilu akibat tidak dapat menerima kekalahan karena sudah mengeluarkan biaya banyak. Ada pula yang meminta kembali yang sudah diberikan kepada masyarakat karena perolehan suaranya rendah di tempat pemilihan setempat, bahkan yang paling terburuk ada caleg perempuan yang hamil 5 bulan bunuh diri di Jawa Timur. Hal-hal seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi apabila Partai bisa membaca gelagat ini sejak dini, karena partai juga yang akan menanggung beban malu akibat kejadian-kejadian seperti ini.

  1. ORIENTASI UANG

Banyak orang berlomba-lomba dan berebut mendaftar menjadi caleg karena tergiur pada kekuasaan, kekayaan dan jabatan. Mereka tidak menyadari bahwa hakekatnya menjadi anggota dewan adalah berjuang untuk kesejahteraan rakyat bukan untuk memperkaya diri sendiri atau golongan. Sehingga banyak wakil kita yang duduk sebagai anggota dewan menjadi koruptor dan akhirnya hanya akan merugikan rakyat.

  1. PERAN SERTA MASYARAKAT KURANG

Peran serta masyarakat disini sangat diperlukan untuk memantau perkembangan pemilu yang LANGSUNG, UMUM, BEBAS, RAHASIA, JUJUR & ADIL. Sikap skeptis di masyarakat mungkin bisa dipahami karena selama ini para caleg yang terpilih sebelumnya tidak pernah memberikan contoh teladan yang baik bagi masyarakat, hal ini menyebabkan banyak masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya pada hal itu sangat mempengaruhi masa depan bangsa kedepan. Mayarakat jenuh dengan tindak tanduk para anggota dewan yang tidak memberikan hal positif, ada yang terjerat hukum karena melakukan tindak pidana korupsi, hubungan gelap dengan pasangan lain (selingkuh), menghambur-hamburkan uang negara berlibur ke luar negeri dengan alasan tugas study banding namun tidak membawa dampak perubahan sepulang dari perlanan tugas tersebut.

  1. NETRALITAS & KETEGASAN PANITIA PENYELENGGARA PEMILU.

Sering dijumpai penyelenggara pemilu tidak bersikap adil dan profesional dalam menjalankan tugas-tugasnya, ada yang mensukseskan caleg atau partai tertentu dan mendapat imbalan dari oknum yang dibantunya tersebut. Disisi lain ada jugayang melihat pelanggaran tersebut namun tidak melakukan tindakan apa-apa dan hanya berdiam diri saja karena mungkin dianggap hanya membuan waktu dan energi tanpa pernah memikirkan dampaknya di kemudian hari. BAWASLU yang diharapkan dapat mengontrol keterrtiban dalam penyelenggaraan pemilu tidak berbuat apa-apa, hanya menunggu dan menunggu. Seharusnya BAWASLU juga sudah bisa melihat gejala awal tersebut dan segera melakukan tindakan pencegahan bukannya menunggu terjadinya pelanggaran tersebut (dalam hal ini DPT, red),

Nasi sudah menjadi bubur pemilu telah terlaksana walau pun hasilnya sangat jauh dari harapan kita semua sekarang ini. Sistem masih belum berubah dan kesejahteraan rakyat menjadi taruhannya, apa yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan berusaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan perubahan demi kemajuan bangsa kita. Pemilihan Presiden sudah siap menunggu kita didepan mata.

Jangan pernah tertipu lagi dengan janji-janji manis yang membuai telinga dan alam pikiran kita. Sudah saatnya rakyat menentukan pilihan politiknya tanpa intimidasi dan kecurangannn.. KEDAULATAN ADA DITANGAN RAKYATTTT….!!!!!!


Iklan Politik Partai Menuju Pemilu 2009 (PEMBOROSAN)

November 25, 2008

Iklan politik partai-partai peserta pemilu 2009 sudah banyak beredar hampir diseluruh media massa di Indonesia, promosi besar-besaran dari partai dengan mendengung-dengungkan janji-janji manis mereka untuk mensejahterakan rakyat begitu terasa sangat kontradiktif dengan situasi yang sedang terjadi di Indonesia. Satu partai menawarkan kinerja parpol yang jujur dan bersih, parpol yang lain menawarkan pemberantasan korupsi, kesejahteraan rakyat, nasionalisme yang tinggi, lapangan pekerjaan yang layak, semua itu diiklankan melalui media massa cetak maupun televisi dan radio.

1. Partai Kesejahteraan Rakyat (PKS)

Mengiklankan tokoh-tokoh pahlawan nasional mulai dari KH. Ahmad Dahlan sampai dengan wacana memberi gelar pahlawan kepada mantan presidan Suharto yang banyak menuai banyak kritik keras dan pedas.

2. Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA)

Mengiklankan ketokohan seorang Prabowo Subianto dengan visi dan misinya mensejahterakan rakyat Indonesia, kehidupan yang dekat dengan para petani dan memperjuangkan produk-produk dalam negeri sangat terkesan terkesan menghambur-hamburkan uang demi sebuah promosi yang sebenarnya sangat tidak relevan dengan keadaan mayarakat yang terpuruk ditengah kemiskinan.

3. Partai Demokrat

Mengiklankan penurunan angka kemiskinan di Indonesia dan pertumbuhan sebesar 6% disektor ekonomi, dan menuai banyak kritik pedas karena tidak sesuai dengan yang terjadi dilapangan. Penyerapan tenaga kerja masih sangat minim sekali, pengangguran meningkat tajam dan kenaikan harga BBM yang hampir-hampir membuat seluruh sektor Usaha Kecil Menangah (UKM) gulung tikar besar-besaran.

4. Partai Amanat Nasional (PAN)

Mengiklankan sosok Sutrisno Bachir yang menggembar-gemborkan idealisme dan rasa Nasionalisme untuk membangun kesejahteraan bersama ditengah-tengah terpuruknya ekonomi masyarakat Indonesia

5. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan)

Mengiklankan kegagalan pemerintah dalam menanggulangi tingginya harga sembako yang diluar jangkauan masyarakat di media televise dan koran-koran Ibu kota

Masih banyak lagi iklan-iklan manis dari partai-partai politik tersebut yang tidak bisa kita sebutkan satu persatu dan tidak terpantau oleh publik / masyarakat umum.

Pesta memang identik dengan kemewahan, kelebihan dan kekayaan, tapi persoalan disini adalah dimana ketika kita menggelar suatu hajat besar atau pesta apakah kita juga sudah melihat ke kiri dan ke kanan bahwa masih banyak orang disekita kita yang masih sangat membutuhkan pertolongan untuk bisa bertahan hidup ?

Mungkin banyak dari Rakyat Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan bertanya-tanya apakah yang sebenarnya terjadi terhadap diri mereka ? Apakah ini adalah suatu kutukan dari garis tangan kehidupan yang harus dilalui sampai pada akhir hayat hidup ini, ataukah ini adalah beban hidup yang harus dilalui dengan menanggung beban dosa hidup para pendahulunya yang dengan seenaknya telah menggadaikan segala kekayaan dan kelimpahan bangsa ini ?

Biaya pendidikan yang mahal, biaya perobatan dan tunjuangan kesehatan yang tidak terjangkau oleh masyarakat, BBM yang melambung tinggi, masyarakat pedesaan yang makan nasi aking, korban lumpur lapindo yang hingga saat ini terkatung-katung mengadukan nasib mereka karena tidak ada pihak yang mau bertanggung jawab atas musibah yang menimpa mereka.

Bayangkan berapa besar dana yang harus dikeluarkan oleh partai-partai politik peserta pemilu 2009 yang banyak sekali mengeluarkan biaya. Sementara rakyat kita menderita kekurangan dan biaya iklan politik tersebut mungkin sudah bisa sangat mengurangi beban hidup mereka pada saat ini. Iklan-iklan politik yang tidak bermanfaat dan hanya untuk kepentingan sesaat saja bagi para pihak yang gila hormat dan jabatan bahkan terkesan menghambur-hamburkan uang.

INGATLAH….!!!!

Rakyat Indonesia perlu hidup, perlu pendidikan dan tunjangan kesehatan, Rakyat Indonesia tidak butuh janji-janji manis..

Semoga Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan ini…!!!!!!!!