Tulang Rusuk

April 22, 2008

Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu
cinta yang lembut.
Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang
manusia yang memadu kasih?
Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong
percakapan lewat,
beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta
kepastian. ya,tentang cinta.

Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan
pasti) Kamu tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam
kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan
Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan
wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati.”

Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang
indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam
dalam kesibukan
masing-masing dan kepenatan hidup yang lain mendera.
Hidup mereka menjadi membosankan.
Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai
menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan
pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas.

Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran,
Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak,
“Kamu nggak cinta lagi sama aku!” Raka sangat membenci
ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak, “Aku menyesal kita
menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!”
Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk
beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya
pada apa yang telah dia dengar.
Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi
seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk
diambil kembali.

Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan
mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. “Kalau aku
bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan
mencari pasangan sejati masing-masing. “

Lima tahun berlalu.
Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu
akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang
asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua
informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi
kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya. Dan di tengah malam
yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit
di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan
Dara.

Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di
airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka
dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling
mau lepas.

Raka : Apa kabar?
Dara : Baik… ngg.., apakah kamu sudah menemukan
rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan
berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku
kalau kamu sempat.
Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah.
Tidak akan ada
yang berubah. Dara tersenyum manis, lalu
berlalu….” Good bye….”

Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami
kecelakaan, mati.
Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan
kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah
karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya
dia patahkan.

“Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang
yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal”


Perawan di Negeri Jinnah

April 22, 2008

…Awalaisal ladzii khalaqas samaawaati wal ardha biqaadirin ‘alaa ay-yakhluqa mitslahum balaa, wa huwal khallaaqul ‘aliim. In-namaa amruhuu idzaa araada syai-an ayyaquu-la lahuu kun fayakuun. Fasubhanal ladzii biyadihii malakuutu kulli syai-iw wa ilaihi turja’uun…

“Grrrr….grrrr…” suara getaran handphone terdengar dari atas meja, bertanda pesan ada baru yang masuk. Mysha farees tahu persis dari siapa pesan itu datang.

.. Sodakallahuladzim…

Mysha pun mengambil handphonenya dari atas meja. “Ass..adee ayo banguuun..!! sholat-sholat…” tertulis dalam pesan pendek yang selalu Mysha terima di setiap harinya, pesan yang datang dari orang yang sama dia adalah Mas Yogie Ilham.

Mysha berada jauh dari keluarga, merantau di negeri jinnah karena harus melanjutkan sekolahnya di sana, demi orang tua tercinta. Pada awal kedatangannya ke negeri jinnah ini, Mysha memiliki begitu banyak masalah yang di hadapi, salah satunya karena tidak begitu banyak warga Indonesia yang tinggal di kota Lahore. Namun ia tetap menjalaninya dengan tabah dan mencoba beradaptasi dengan lingkungan dan masyarakat sekitar. Mas Yogie adalah warga Indonesia yang Mysha kenal sejak lima bulan lalu, Mas Yogie datang dua bulan setelah Masya bertujuan untuk urusan bisnis karena dikirim dari perusahaan dimana ia bekerja.

“Wsalam iya udah mas baru aja selesai sholat, dan Yasinan…mas sendiri udah sholat blm??” seperti biasa Mysha membalas pesan tersebut dengan segera. Kedekatan antara mereka ini menimbulkan rasa sayang satu dengan yang lainnya. Rasa yang datang dengan sendirinya itu seharusnya tidak boleh pernah ada. Karena Mas Yogie adalah seseorang yang telah beristri dan telah memiliki 2 orang putra.

Entah akan ada apa hari ini, aku merasa hari ini adalah hari yang begitu berarti dalam hidupku. Akan ada keputusan besar yg ku ambil hari ini. Itu lah yang ada dipikiran Mysha, teringat akan perbincanganya dengan Mas Yogie beberapa waktu lalu.

“Ade mau miliki mas seutuhnya selama mas disini.??”

“Hmmm maksudnya??” Mysha mengerutkan keningnya.

“Yaa selama mas disini apa ade mau miliki mas seutuhnya?”

Pertanyaan yang begitu sulit ku jawab. Mas seandainya kau tahu isi hatiku, rasa sayangku padamu tulus dan ikhlas, tanpa ada paksaan. Tapi apa mungkin bisa aku memilikimu.

“adee…besok minggu kita ketemu di tempat biasa yaa”, pesan singkat dari Mas Yogie itu telah di baca berulang kali oleh Mysha. Ini berarti hari ini tanggal 13 Mei tahun 2007, jam sembilan nanti ya . Mysha berpikir gelisah, entah apa yang akan terjadi tapi firasatnya akan ada hal besar.

“Oh yaaa…pake baju terbaru yaaa!!C.U”

Dilihatnya jam dinding menunjukan pukul 8.00. Masih sejam lagi. Kenapa hati ku jadi makin tak tenang.

Dengan mengenakan baju hitam putih kesayangannya Mysha pun pergi meninggalkan asramanya

“Bhai! regal chowk jana hai, Pechas ya!” sopir reksa pun menganggukankan kepalanya tanda setuju dengan harga yang ditawarkan. Mysha pun pergi ke tempat yang telah di tentukan bersama sebelumnya. Hanya membutuhkan 20 menit untuk sampai di tempat tujuan dari asrama Mysha.

“Bhai yaha ruk ja eay, Sukriya!”

Dilihatnya toko-toko masih tutup. Dengan segera ia mengirim pesan singkat, ” mas masih tutup KFCnya, aku tunggu di halte depan KFC aja yaa..”

“iya mas sebentar lagi sampai di situ”

Tak berapa lama Mas Yogie yang dinanti-nanti pun tiba. wahhh..!!! gantengnya. Dalam pikiran Mysha dengan kagumnya. “udah lama de?”. ” belum mas, baru aja” dengan tersenyum Mysha menjawab. “kita ke toko kue aja ya, sepertinya toko yang di sebelah sana udah buka .” Ajakan Mas Yogie. Mysha hanya menurut dan mengikutinya dari belakang sambil tersenyum kagum.

“Mau minum apa de?”

“Jus apel aja”

“Sudah sarapan?”

“Sudah koq tadi beli di kantin”

Mereka pun duduk di meja dekat jendela. Dan Mas Yogie meletakkan sebuah bungkusan di atas meja.

“Ade ini Al-Quran, taruh tanganmu di atas sini, mas mau dengar janjimu.” Mysha pun meletakkan tangannya di atas bungkusan berisi Al-Quran tersebut. “Adee…janji ya jangan bilang siapa-siapa soal kita, termasuk pada sahabat dekat dan mamah kamu.” Dengan senyum Mysha menjawab “iya mass”. “Mas ga mau melakukan dosa, mas juga ga mau mengajarkan yang tidak-tidak padamu. Kamu gadis yang baik. Adeee…”

“Iya mas!”

“Siap kita nikah hari ini?”

Wajah Mysha nampak memerah karena malu, ia terdiam dan menundukkan kepalanya. “Adee.!! kita udah sama-sama dewasa dan orang tua kita pun sudah percayakan semuanya pada kita, semua keputusan itu ada pada kita.”

Mysha tetap tak bisa berkata apa-apa, dan tetap menundukan kepalanya.

“Untuk sementara ini, itu aja dulu yaa, jika ade punya pertanyaan nanti aja yaa setelah ijab.”

“adee…!!” Mas yogie memanggilnya lembut, “liat mas”

Dengan perlahan Mysha mengangkat kepalanya dengan wajahnya yang masih memerah tapi tetap ia tak bersuara.

“Jika ade tidak setuju bilang saja terus terang, dan jika ade setuju bilang insya Allah”

Yaa..Allah apa yang harus aku perbuat ? apa ini mimpi? ya Allah aku menyayanginya dan itu adalah kebenaran, tapi….apa aku harus menerimanya atau menolaknya. Bagaimana dengan anak dan istrinya. ya Allah aku mohon petunjukmu. Mysha berfikir keras dan juga bimbang.

“Adeee…” Mas Yogie memanggilnya lagi.

Bismillahir Rahmaanir Rahim, dalam hati Mysha dan dengan perlahan menghembuskan nafasnya.

“Insya Allah mas”