Mahasiswa UNAS vs (BBM + Polisi) = Maftu Fauzi tewas (SBY-JK senang)


Perjuangan mahasiswa dan elemen masyarakat dalam menolak Kebijakan pemerintah menaikan harga BBM mengalami anti klimak, usaha mahasiswa dalam memperjuangkan aspirasi rakyat Indonesia dalam bentuk aksi demo telah menelan korban jiwa Maftuh Fauzi mahasiswa Akademi Bahasa Asing angkatan 2003 Unviersitas Nasional (UNAS). Seperti diketahui dalam pemberitaan sebelumnya bahwa mahasiswa UNAS melakukan aksi unjuk rasa menolak kenaikan BBM pada tanggal 24 Mei 2008 di dalam kampus mereka yang berujung pada kerusuhan dan penyerangan aparat keamanan kedalam kampus UNAS tersebut yang dikenal masyarakat sebagai kampus tertua di negeri ini. Maftu adalah salah satu mahasiswa yang ikut terlibat dalam aksi tersebut berhasil ditangkap dan mengalami penganiayaan dari pihak kepolisian pada saat itu.

Dalam kerusuhan yang dikenal dengan tragedi UNAS inilah Mahfut ditangkap dan digelandang ke Mapolres Jakarta Selatan untuk di interogasi dan dimintai keterangan. Namun dalam proses tersebut banyak pihak menduga terjadi aksi kekerasan terhadap para mahasiswa dan minimnya pengobatan yang berikan pihak dokter dari Mapolres terhadap para mahasiswa yang tertangkap dalam aksi unjuk rasa tersebut.

Siapakah yang bertanggung jawab dalam insiden UNAS & tewasnya seorang putera bangsa yang berjuang untuk kepentingan rakyat Indonesia ini (Maftu .red) ? sejauh ini pihak rumah sakit tempat Maftu dirawat RSPP membantah kematian mahasiswa UNAS tersebut akibat dari penganiayaan yang dialaminya dalam insiden UNAS. Minimnya pengobatan yang diterima korban ketika ditahan di Mapolres selama 9 hari membuat kondisi korban sangat memprihatinkan. Justru mereka mengatakan kematian tersebut diakibatkan karena terinfeksi virus HIV-AIDS yang diderita korban selama ini. Tapi banyak pihak mengatakan bahwa pernyataan tim dokter yang menangani Maftu sangat tidak bisa diterima dan cenderung mengada-ada untuk mengalihkan perhatian dan meredam amarah masyarakat dan mahasiswa yang dengan terang-terangan menolak kenaikan harga BBM.

Ini adalah pertanda preseden buruk bagi iklim demokrasi di Indonesia yang telah memasuki era reformasi selama 10 tahun, suatu usaha yang sia-sia apabila memang ini adalah sebuah skenario baru pemerintah dalam mengalihkan isu kenaikan BBM dengan mengadu domba antara pihak kepolisian dengan mahasiswa dalam upaya mereka untuk menolak bertanggung jawab atas peristiwa ini ? Masih belum hilang dari ingatan kita atas insiden monas, ditangkapnya Ketua Umum FPI Habib Rizieq dan Panglima Laskar Islam Munarman beserta para pengikutnya dalam aski penyerangan terhadap para aktivis AKK-BB, pilkada Malut yang berujung bentrokan terhadap dua pendukung calon Gubernur disana, proses penangkapan aktor intelektual pembunuhan Munir aktivis HAM dan Kontras, semua tidak lebih sebagai upaya pemerintah untuk mengelabuhi dan mengalihkan perhatiaan masyarakat atas aksi gerakan mahasiswa dalam menolak kenaikan harga BBM.

Tragedi meninggalnya Maftu sangat disesalkan banyak pihak, baik mahasiswa, masyarakat indonesia, politisi dan elemen masyarakat lainnya. Lalu kemana para politisi dan elite-elite politik yang duduk sebagai anggota dewan yang selama ini dipercaya sebagai wakil rakyat untuk menyerukan aspirasinya ? Masih pantaskah mereka dipercaya..????

Ketika wacana proposal kenaikan BBM mereka tidak bergeming sedikit pun dalam memperjuangakkan aspirasi kita selama ini yang telah mengalami keterpurukan ekonomi, dan tidak ada yang mereka hasilkan dalam agenda reformasi yang telah berusia 10 tahun ini.

REVOLUSI adalah jalan terbaikdan solusi yang bisa kita harapkan saat ini, para pemimpin negeri ini sudah tidak memiliki hati nurani lagi dalam memimpin bangsa ini, wakil-wakil rakyat kita sudah tidak bisa dipercaya lagi, para elite hanya mementingkan kepentingan partai kelompoknya saja sementara rakyat kita sudah sangat menderita dibawah bayang-bayang mahalnya harga sembako akibat kenaikan harga BBM. Mereka memimpin layaknya binatang buas yang hidup ditengah hutan belantara yang mengedepankan hukum rimba dalam menjalankan pemerintahannya, tidak kenal belas kasihan, tidak perduli lagi trerhadap sesama, menjual harga diri bangsa ini kepada pihak asing dan membunuh putera-puteri terbaik yang dilahirkan oleh ibu pertiwi.

Sudah saatnya kita mengalihkanperjuangan ini, bukan dengan semangat reformasi yang di awali gerakan mahasiswa 10 tahun yang lalu tapi Indonesia sudah waktunya mengusung semangat REVOLUSI. Banyaknya aksi dan gerakan yang di tunggangi oleh para elite membuat kita yang sengasara ini semakin susah dihimpit tuntutan hidup yang semakin hari semakin tidak terkendali.

3 hal yang harus kita lakukan dan sudah menjadi tuntutan kita dalam menyikapi para pemimpin bangsa ini yang sudah tidak memiliki hati nurani lagi adalah :

1.Turunkan harga

2. Bubarkan parlemen

3. Bentuk pemerintahan transisi

Untuk apa lagi kita mendukung pemerintahan yang selalu membeuat kebijakan yang tidak pernah berpihak kepada rakyatnya sendiri ? sudah cukup keringat, air mata, darah tertumpah, nyawa putera-puteri terbaik bangsa ini yang melayang. Saatnya kita berjuang untuk REVOLUSI Indonesia.

Selamat jalan sahabat..!!! Salam dari kami teman-teman mu yang masih harus tetap berjuang untuk membela rakyat Indonesia yang miskin, sengsara dan tertindas. Tawa mu tak akan terlupakan, perjuangan mu tak akan berhenti sampai disini karena masih ada kami yang akan meneruskannya sampai titik darah penghabisan.

ORA ET LABORA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: