Perawan di Negeri Jinnah


…Awalaisal ladzii khalaqas samaawaati wal ardha biqaadirin ‘alaa ay-yakhluqa mitslahum balaa, wa huwal khallaaqul ‘aliim. In-namaa amruhuu idzaa araada syai-an ayyaquu-la lahuu kun fayakuun. Fasubhanal ladzii biyadihii malakuutu kulli syai-iw wa ilaihi turja’uun…

“Grrrr….grrrr…” suara getaran handphone terdengar dari atas meja, bertanda pesan ada baru yang masuk. Mysha farees tahu persis dari siapa pesan itu datang.

.. Sodakallahuladzim…

Mysha pun mengambil handphonenya dari atas meja. “Ass..adee ayo banguuun..!! sholat-sholat…” tertulis dalam pesan pendek yang selalu Mysha terima di setiap harinya, pesan yang datang dari orang yang sama dia adalah Mas Yogie Ilham.

Mysha berada jauh dari keluarga, merantau di negeri jinnah karena harus melanjutkan sekolahnya di sana, demi orang tua tercinta. Pada awal kedatangannya ke negeri jinnah ini, Mysha memiliki begitu banyak masalah yang di hadapi, salah satunya karena tidak begitu banyak warga Indonesia yang tinggal di kota Lahore. Namun ia tetap menjalaninya dengan tabah dan mencoba beradaptasi dengan lingkungan dan masyarakat sekitar. Mas Yogie adalah warga Indonesia yang Mysha kenal sejak lima bulan lalu, Mas Yogie datang dua bulan setelah Masya bertujuan untuk urusan bisnis karena dikirim dari perusahaan dimana ia bekerja.

“Wsalam iya udah mas baru aja selesai sholat, dan Yasinan…mas sendiri udah sholat blm??” seperti biasa Mysha membalas pesan tersebut dengan segera. Kedekatan antara mereka ini menimbulkan rasa sayang satu dengan yang lainnya. Rasa yang datang dengan sendirinya itu seharusnya tidak boleh pernah ada. Karena Mas Yogie adalah seseorang yang telah beristri dan telah memiliki 2 orang putra.

Entah akan ada apa hari ini, aku merasa hari ini adalah hari yang begitu berarti dalam hidupku. Akan ada keputusan besar yg ku ambil hari ini. Itu lah yang ada dipikiran Mysha, teringat akan perbincanganya dengan Mas Yogie beberapa waktu lalu.

“Ade mau miliki mas seutuhnya selama mas disini.??”

“Hmmm maksudnya??” Mysha mengerutkan keningnya.

“Yaa selama mas disini apa ade mau miliki mas seutuhnya?”

Pertanyaan yang begitu sulit ku jawab. Mas seandainya kau tahu isi hatiku, rasa sayangku padamu tulus dan ikhlas, tanpa ada paksaan. Tapi apa mungkin bisa aku memilikimu.

“adee…besok minggu kita ketemu di tempat biasa yaa”, pesan singkat dari Mas Yogie itu telah di baca berulang kali oleh Mysha. Ini berarti hari ini tanggal 13 Mei tahun 2007, jam sembilan nanti ya . Mysha berpikir gelisah, entah apa yang akan terjadi tapi firasatnya akan ada hal besar.

“Oh yaaa…pake baju terbaru yaaa!!C.U”

Dilihatnya jam dinding menunjukan pukul 8.00. Masih sejam lagi. Kenapa hati ku jadi makin tak tenang.

Dengan mengenakan baju hitam putih kesayangannya Mysha pun pergi meninggalkan asramanya

“Bhai! regal chowk jana hai, Pechas ya!” sopir reksa pun menganggukankan kepalanya tanda setuju dengan harga yang ditawarkan. Mysha pun pergi ke tempat yang telah di tentukan bersama sebelumnya. Hanya membutuhkan 20 menit untuk sampai di tempat tujuan dari asrama Mysha.

“Bhai yaha ruk ja eay, Sukriya!”

Dilihatnya toko-toko masih tutup. Dengan segera ia mengirim pesan singkat, ” mas masih tutup KFCnya, aku tunggu di halte depan KFC aja yaa..”

“iya mas sebentar lagi sampai di situ”

Tak berapa lama Mas Yogie yang dinanti-nanti pun tiba. wahhh..!!! gantengnya. Dalam pikiran Mysha dengan kagumnya. “udah lama de?”. ” belum mas, baru aja” dengan tersenyum Mysha menjawab. “kita ke toko kue aja ya, sepertinya toko yang di sebelah sana udah buka .” Ajakan Mas Yogie. Mysha hanya menurut dan mengikutinya dari belakang sambil tersenyum kagum.

“Mau minum apa de?”

“Jus apel aja”

“Sudah sarapan?”

“Sudah koq tadi beli di kantin”

Mereka pun duduk di meja dekat jendela. Dan Mas Yogie meletakkan sebuah bungkusan di atas meja.

“Ade ini Al-Quran, taruh tanganmu di atas sini, mas mau dengar janjimu.” Mysha pun meletakkan tangannya di atas bungkusan berisi Al-Quran tersebut. “Adee…janji ya jangan bilang siapa-siapa soal kita, termasuk pada sahabat dekat dan mamah kamu.” Dengan senyum Mysha menjawab “iya mass”. “Mas ga mau melakukan dosa, mas juga ga mau mengajarkan yang tidak-tidak padamu. Kamu gadis yang baik. Adeee…”

“Iya mas!”

“Siap kita nikah hari ini?”

Wajah Mysha nampak memerah karena malu, ia terdiam dan menundukkan kepalanya. “Adee.!! kita udah sama-sama dewasa dan orang tua kita pun sudah percayakan semuanya pada kita, semua keputusan itu ada pada kita.”

Mysha tetap tak bisa berkata apa-apa, dan tetap menundukan kepalanya.

“Untuk sementara ini, itu aja dulu yaa, jika ade punya pertanyaan nanti aja yaa setelah ijab.”

“adee…!!” Mas yogie memanggilnya lembut, “liat mas”

Dengan perlahan Mysha mengangkat kepalanya dengan wajahnya yang masih memerah tapi tetap ia tak bersuara.

“Jika ade tidak setuju bilang saja terus terang, dan jika ade setuju bilang insya Allah”

Yaa..Allah apa yang harus aku perbuat ? apa ini mimpi? ya Allah aku menyayanginya dan itu adalah kebenaran, tapi….apa aku harus menerimanya atau menolaknya. Bagaimana dengan anak dan istrinya. ya Allah aku mohon petunjukmu. Mysha berfikir keras dan juga bimbang.

“Adeee…” Mas Yogie memanggilnya lagi.

Bismillahir Rahmaanir Rahim, dalam hati Mysha dan dengan perlahan menghembuskan nafasnya.

“Insya Allah mas”

2 Balasan ke Perawan di Negeri Jinnah

  1. Tulus Muara mengatakan:

    Jawaban atas comment Saudara kamu Vincent :

    Shalom,
    Cerita ini adalah kiriman dari teman dekat admin yang tinggal di Lahore, Pakistan yang sedang dalam proses pendidikan perguruan tinggi disana.

    Ini adalah sebuah cerita fiksi yang dikarang oleh beliau, penulisan cerita ini atas dasar keprihatinan beliau akan sebuah fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, khususnya bagi orang-orang yang tinggal jauh dari sanak saudara. Begitu banyak persoalan pribadi yang mereka temukan disana sehingga jarang mendapatkan perhatian khusus dari orang lain yang memiliki sepemahaman kultur dan budaya.

    Penulis cerpen ini adalah warga kebangsaan Indonesia dan berasal dari keluarga Muslim taat, dan kenapa cerpen ini bisa ditampilkan di situs ini adalah suatu bentuk kedekatan penulis dan admin yang walaupun kita berbeda ideologi tapi tidak menjadi pembatas antara kita untuk tetap berteman dan bersahabat.

    Semoga penjelasan ini bisa menjawab pertanyaan yang saudara Vincent sampaikan. Sebelumnya kami meminta maaf kalau ada isi materi dalam situs ini yang tidak berkenan. Semoga kedepan kami akan lebih teliti dan selektif lagi dalam menampilkan artikel-artikel sejenis.

    ORA ET LABORA,

    GBU..

  2. vincent mengatakan:

    Saya bingung.
    Apa maksud/pesan moral cerita di atas, dan apa maksudnya cerita ini dipampang di tempat GAMKI ?
    Mohon penjelasan dan bimbingannya, jangan sampai orang salah mengerti dan menimbulkan kesalah paham-an.

    Trims,
    Vin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: